Menyudahi Cerita Kita, Bukan Berarti Aku Tak Memiliki Rasa Sayang Kepadamu


Masih terekam jelas di benakku mengenai awal aku mengenalmu. Semua begitu menyenangkan hingga aku pun merasa nyaman.
Entah dari mana aku harus mengawali cerita ini. Bahkan aku tak tahu sebenarnya aku dan kamu kenapa bisa bertemu. Kau hanyalah seniorku. Ya, aku hanya tahu sebatas itu. Sampai akhirnya kau mendekatiku. Entah jurus apa yang telah kau perbuat, hingga aku dan kau menjadi begitu dekat. Setelah itu kau mengajakku jalan, dan masih ingat sekali aku tentang itu. Kau selalu membuatku tertawa dengan ceritamu, hingga kita sama-sama tidak sadar bahwa sudah pergi seharian. ya, sejauh ini aku merasa nyaman.
Kau katakan rasa nyaman, hingga aku pun terkesima dan mengatakan.
Tanpa aku sangka sebelumnya, kau menyatakan cinta. Waktu yang singkat mengenalmu ini, tak aku hiraukan karena aku yakin kau sangat baik hati. Tanpa aku perpanjang, aku pun mengiyakan. Rona bahagia nampak jelas di wajahmu kala itu. Hari-hari kita lalui dengan kehangatan mulai dari selamat pagi hingga pagi lagi.
Waktu terus berjalan hingga aku merasa kau semakin mengaturku. Aku bimbang, antara cinta dan merasa dikekang.
Mungkin memang aku yang keterlaluan dan terlalu bebas berkelakuan. Ya, mungkin begitu. Sempat aku pikir apakah semua hubungan percintaan memang begini masalahnya? Dan akhirnya aku pun menganggapnya wajar. Aku berusaha bersabar. Namun, ada satu hal yang membuatku merasa semakin lama aku tak bisa.

Aku risih setiap kali harus diserbu pertanyaan lagi dimana, sama siapa, ada cowonya tidak, ngobrol sama cowo tidak, dan sebagainya. Di balik bahagianya aku saat kita bertemu, terselip rasa kesal ketika kau menuduhku macam-macam. Awalnya aku berusaha menganggap itu semua adalah bentuk cinta, tapi tak bisakah kamu mengerti bahwa tidak semua temanku perempuan? Aku merasa kau batasi, tapi aku juga tidak ingin ku pergi.
Dan akhirnya aku akhiri. Melepasmu adalah keputusan terbaik, agar semuanya menjadi lebih baik.
Seringnya kita bertengkar membuat fokus pekerjaanku buyar. Hubungan dengan sahabat dan teman-temanku juga agak renggang. Komunikasi yang dulu terjalin menjadi susah untuk disambungkan. Ya, aku akui ini bukan salahmu. Hanyalah aku yang terlalu berlebihan menganggap berharga sebuah pertemanan.

Seringkali aku menangisi diriku sendiri, aku muak dengan diriku yang tak sebahagia dulu. Lambat laun aku menjadi kurang nyaman, rasa cintakupun kian luntur. Dan akhirnya aku akhiri. Maafkan aku, kau sama sekali tidak salah. Wajar saja seorang lelaki tak membiarkan perempuan yang dicintainya bersua dengan lelaki lain. Semoga melepasmu adalah keputusan terbaik, agar semuanya menjadi lebih baik.
Bisalah kau menuduhku macam-macam. Namun kau harus tahu, bahwa hati manusia bisa jenuh jika terus disalahkan.
Aku hanya ingin hubungan yang menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya, bukan seperti ini. Kau sangat baik, sungguh baik, namun ada hal yang aku rasa lebih baik kita tidak bersama. Aku tidak mau ada kesedihan dalam sebuah hubungan.
Buah dikenal dari Pohonnya. Kalau Buahnya baik, pasti pohonnya baik. Kalau pohonnya Kurang baik, bagaimana mungkin buahnya akan baik?
Kutipan itu bermakna bahwa pohon itu ibarat hubungan kita, dan buah adalah efeknya. Jika efeknya dirasa kurang baik itu berarti hubungan kita kurang sehat bukan? Mungkin akan ada penyesalanku karena keputusan ini, namun aku percaya bahwa cinta tak akan kemana mana. Dan takdirpun tidak akan salah waktu. Semua akan kembali, jika dua manusia sudah digariskan untuk bersatu.

Ya, menyudahi cerita bukan berarti denganmu aku tak punya rasa cinta. Boleh saja hari ini kita akhiri. Namun bukan tidak mungkin nanti kita akan kembali. Semoga tidak akan ada lagi pertengkaran, tidak ada lagi drama, dan tidak ada lagi perdebatan. 
Percayalah, takdir tidak akan salah waktu. Semua akan kembali, jika dua manusia sudah digariskan untuk bersatu.

Aku Tetap Berdiri, Bahkan Setelah Kamu Pergi


Asal kamu tahu. Kepergianmu pernah mengubah susunan besar yang sudah kutata baik-baik selama ini. Jika hati bisa berderak maka kehilangan kamu tak cuma membuat hatiku patah. Tapi juga membuat telingaku pekak.

Beberapa saat lamanya aku seperti zombie yang berjalan tanpa nyawa. Semua aktivitas kujalani hanya karena butuh saja, bukan karena ingin melakukannya. Tapi keadaan membuatku bertahan di tengah keterbatasan. Aku memang pernah remuk redam, tapi kini kubuktikan, aku bertahan.
"Jika proses mengikhlaskanmu adalah perjalanan, maka harus kuakui kita tak kurang dari sebuah etape panjang"

Kedekatan kita memang tak perlu dipertanyakan lagi kondisinya. Kita pernah saling mengenal sedekat pembuluh. Perjuangan kita membangun ikatan sudah beranak sekian ratus peluh. Aku hapal di luar kepala bagaimana bentuk tubuhmu, bagaimana manisnya mengecup lekukan di sisi kiri tulang belikatmu. Aku pernah jadi pecandu nomor wahid dari aroma yang menguar dari tengkukmu.
Bahkan sampai kini aku masih bisa menghapalnya dengan sedetil itu.
Kemudian kamu pergi. Hilang, lenyap dari bumi. Kata orang aku hanya harus ikhlas dan menjalani. Karena pasti yang terbaik sudah Ia siapkan di ujung ruang yang dilabeli “nanti.” Persetan! Kataku saat itu. Bagaimana bisa semudah itu mengikhlaskan hal terbaik yang pernah datang? Aku ini orang yang juga masih ingin senang!.

"Tapi kusadari kamu tak pernah hilang. Kamu 
menyublim jadi partikel udara. Dalam diam memelukku di tengah gempuran masalah yang ada"

Kata orang cinta yang tidak lantang justru cinta yang melibatkan banyak upaya juang. Kini frasa itu harus kuamini benarnya. Kita tidak pernah benar-benar mengungkapkan perasaan ‘kan? Kutahu kau menyayangiku, kaupun tahu betul aku pun begitu. Hanya saja kita sering terlampau malu untuk mengungkapkan dalamnya perasaan itu.

Tapi kehilangan kamu benar-benar membuka mataku soal berbagai lapisan kehilangan. Berpisah denganmu jelas menyakitkan. Hanya saja aku merasa kamu tidak pernah benar-benar berubah jadi ruang hampa yang tidak bisa kugenggam kapanpun aku membutuhkannya.

Dalam diam, kamu selalu ada. Menyelip di tisu yang terselip di kantung kemejaku. Atau dalam sobekan jok motor yang sudah kau ributkan harus diganti dari dulu. Pada desing motor yang ribut melintas dan mengganggu konsentrasiku, kutemukan kamu di situ.
"Perjuangan yang terus dihela adalah hadiah terbaik yang bisa kuberi. Demi kamu, aku berjanji: kamu akan terus melihatku berdiri"

Tentu saja lebih mudah menyerah pada gaya gravitasi. Terjun bebas, meretakkan tulang tengkorak dan tulang rusuk sampai benar-benar jadi serpihan sekecil atom. Tapi kutahu kamu tak akan bahagia melihatku menyerah pada keadaan. Kamu tidak pernah mendidikku untuk jadi pecundang.

Aku ingin jadi orang yang bisa membuatmu tersenyum di atas sana. Tak perlu khawatir harus sering-sering mengeluarkan tangga demi menengokku. Nikmati apa yang sudah jadi hakmu. Jalani hidup kekal yang nyaman sebagai balasan atas kebaikan-kebaikanmu. Aku bisa bertahan di sini tanpamu.

Kamu tidak akan melihatku terpuruk berlama-lama, bersedih karena kenyataan yang ada. Justru aku akan memutar otak agar kesedihan tak melumatku seperti oat encer yang rasanya kau tak suka.

Aku merindukanmu. Selalu. Hanya saja karena aku mencintaimu, akan kubuktikan kalau aku akan terus hidup tanpamu.

Adakah rasa syukur lain yang ingin kamu ungkapkan pada orang yang telah meninggalkanmu?

Hei Kamu, Terima Kasih Untuk Segalanya. Meskipun Kamu Harus Mundur Langkah Demi Langkah Dariku


Pagi masih setia datang tepat pada waktunya dan senja juga selalu datang dengan setiap keindahannya. Selama beberapa hari sejak kamu pergi, tak ada satu hal pun yang berubah. Rutinitasku juga masih aku lakukan, sama persis seperti saat kamu masih di sini. Semua masih tetap sama. Hanya saja, tak ada lagi sapa selamat pagi darimu saat menjemputku di pagi hari. Tak ada lagi kata sayang yang tetulis dalam pesanmu. Tak ada lagi tawa renyah kita saat bercerita di malam hari ketika aku letih dengan pekerjaanku. Dan tak ada lagi senyum yang selalu aku lihat setiap  waktu saat kau mengantarkanku didalam mimpiku.

Aku menulis ini bukan karena merindukanmu atau mengharap kau untuk kembali. Rinduku seakan sudah pergi tak berjejak. Harapan-harapan yang sempat membuncah juga sudah terbang entah kemana. Rasa yang pernah meluber juga sudah menguap dan menghilang begitu saja. Hatiku sudah jauh lebih baik. Mataku sudah sangat terbiasa tanpa melihatmu. Telingaku sudah lebih nyaman tanpa kicaumu. Hidungku sudah tak lagi mencari aroma tubuhmu. Bibirku sudah tak tertarik lagi menyebut namamu. Kulitku menjadi lebih halus tanpa sentuhan tanganmu. Kau tau itu artinya apa? Artinya hidupku menjadi lebih sempurna tanpa kehadiranmu.

Dengan segala rasa nyaman yang aku dapatkan sekarang, aku hanya ingin berterima kasih padamu. Terima kasih atas segala bahagia yang pernah kau berikan padaku. Terima kasih atas setiap jengkal hari yang sudah pernah aku lewati bersamamu. Terima kasih atas tawa yang selalu kau hadirkan di setiap kebersamaan kita. Terima kasih atas pelukan hangat yang selalu kau berikan setiap aku merasa gundah. Terima kasih atas perhatianmu yang selalu tercurah untukku. Terima kasih sudah pernah menawarkan masa depan padaku.

Tak sedikitpun ada rasa menyesal di hatiku pernah bertemu dan mempunyai cerita hidup bersamamu. Mengenalmu, menjalani hari-hari bersamamu, merasakan membuncahnya rasa ketika aku ingin melamarmu, dan menikmati repotnya mengurus persiapan pernikahan kita adalah lukisan pelangi yang pernah kau buat dalam hidupku. Terima kasih. Terima kasih sudah melukis pelangi terindah dalam hidupku walau akhirnya aku tak pernah menikmati indahnya.

Hidupmu mungkin saja jauh lebih bahagia tanpa aku karena tak ada lagi suara cempreng yang selalu mengingatkanmu untuk ini dan itu. Hidupku sekarang tentu saja lebih bahagia tanpamu karena tak ada lagi wanita yang menawarkan kebahagiaan semu padaku. Kau sudah pernah memilih bahagiamu bersamaku dan aku juga sudah pernah menerima tawaranmu untuk hidup menua bersamamu. Dan sekarang, kamu sudah memilih bahagiamu dengan mundur dari penawaran menjalani masa depan bersamamu, beberapa belas hari sebelum hari sakral kita. Aku harap, aku sangat berharap, kau tak salah jalan memilih bahagiamu untuk mundur dari cerita kita ini. Karena satu hal yang perlu kau tahu, kau tak akan pernah bisa kembali ke jalan saat masih ada kita. Setelah kau memutuskan untuk pergi, jalan itu sudah aku tutup, aku gembok, dan kuncinya aku buang.

Dan hai kamu wanita dengan hiperkolesterol. Sekali lagi aku ingin mengucapkan terima kasih. Kedatanganmu di hidupku sudah merubah persepsiku tentang laki-laki. Kepergianmu di hidupku juga sudah membuat aku belajar banyak hal, terutama tentang tanggungjawab, komitmen dan sebuah konsistensi. Terima kasih sudah mengajarkanku tertawa saat menangis. Terima kasih sudah membuatku merasa dihargai sebagai seorang lelaki. Terima kasih telah memperlakukanku seperti seorang putri raja. Terima kasih sudah menjagaku dengan penuh rasa sabar. Terima kasih sudah selalu ada setiap aku membutuhkanmu.

Berbahagialah. Semoga memang dia satu-satunya sosok yang kau cari hingga kau bersedia untuk menyakiti hati dan menginjak-nginjak harga diri seorang lelaki sekaligus seluruh keluarga besarnya. Terima kasih sudah memilihkan jalan ini untuk aku jalani. Terima kasih sudah memberikanku kesempatan untuk mendapatkan cinta yang lebih besar dari cintamu di masa depanku nanti. Terima kasih sudah memberikan pengalaman berharga yang bisa aku ceritakan pada anak perempuanku nanti tentang bagaimana harusnya seorang perempuan bersikap. Terima kasih, karena dengan kepergianmu, itu artinya kau memberikanku kesempatan untuk mendapatkan sesosok wanita yang jauh lebih baik, lebih membawaku dekat dengan Rabb-ku, lebih menghargai aku, lebih bertanggungjawab, lebih menjaga komitmen, lebih konsisten, lebih setia, lebih menjaga kehormatan, lebih bisa menerimaku dengan bawelku, lebih bisa diajak berpikir ke depan dan tidak pernah berpikir tentang sebuah tuntutan, menuntut dan dituntut.

Aku tak pernah mendoakan hal-hal buruk terjadi di hidupmu. Aku hanya ingin mengingatkan saja, lebih berhati-hati lagi dalam bertutur kata, bersikap dan bertindak. Karena sebab akibat selalu ada. Karena hukum tanam tuai juga masih belum punah. Dan karena Tuhan selalu melihat apa yang kita perbuat. Sekali lagi, terima kasih. Karena dengan caramu ini, aku menjadi semakin yakin bahwa Tuhan memang sangat menyayangiku sehingga DIA menjauhkanku dari hal yang tidak baik untuk hidupku dan aku percaya, DIA akan menggantikan dengan hal yang baik untuk hidup dan masa depanku kelak.

Selamat berbahagia dengan jalanmu. Semoga peluknya memang jauh lebih hangat,.

Salam dari aku,

Lelaki yang kadangkala masih merasa rapuh, tapi sudah tak lagi menangis ketika menulis ini.,

Aku Telah Merelakanmu, Namun Dengan Jahatnya Memintamu Kembali


Aku tahu hidup tak selucu itu, datang hanya membuat luka lalu pergi dan kemudian datang lagi. Siapa yang akan tahan jika diperlakukan seperti itu dengan seseorang yang sangat disayanginya. Dan itulah aku, menjadi "Pelaku" bukan "Korban", iya menjadi yg datang dan pergi.
Beribu-ribu maaf aku sampaikan kepadamu, maaf telah menyakitimu, maaf tlah pergi demi seseorang yang malah meninggalkan aku, maaf slalu mengingkari perasaan ini, maaf slalu menyuruhmu membuang rasa itu, dan maaf karena sekarang aku Memintamu kembali untuk menyayangiku.
Terima kasih kamu sudah sangat sabar berada di situ, di sisi hatiku yang tak ingin ku sentuh. Terima kasih karena kamu sudah mau memberiku kesempatan untuk yang kesekian kalinya dan semoga untuk yang Terakhir kalinya, karena aku ingin "aku dan kamu" menjadi "kita",

Yahhh pasti tidak semudah itu karena hatimu selalu aku sakitin dengan sikapku, dengan kesalah fahaman ini.

"Aku tidak lagi mencintaimu karena kasihan atau karena terima kasih. Tapi sekarang aku benar-benar mencintaimu dengan segala kelemahan dan kekuranganku. Dengan kelamnya masa laluku dan dengan masa depanku bersamamu"
"Aku ingin kita mulai dari awal, meskipun itu tidak bisa sama lagi."
Aku tahu semuanya tidak akan seperti sama lagi, tetapi setidaknya kamu sudah mau memberiku kesempatan walau hanya sekedar menyapamu. Tapi apakah rasa itu masih ada? Aku harap iya. Kamu ingat dulu kamu pernah berkata " Jika Tuhan mau kita bersama bagaimana?" " Lalu jika Itu kamu?" Dan aku selalu memungkirinya dan menyakiti hatimu.

Tapi sekarang jika kamu bertanya seperti itu lagi, aku akan menjawab, "iya Tuhan dan Semesta mengijinkan kita tuk bersama" dan "Iya itu aku".

Memang tidak sekarang, butuh waktu sampai pada saatnya Tuhan mengijinkan kita tuk bersama. Dan aku tau kamu masih terluka dengan semua sikapku dulu.

Tapi satu hal yang mesti kamu tahu "Aku slalu belajar menjadi baik" , "Aku tidak meninggalkannya tetapi aku meninggalkanmu", " Aku tidak menyakitinya,tetapi aku menyakitimu".

Untuk kamu penggila Warna Tosca

Bukan Soal Mudah Mengutarakan Apa yang Kita Rasakan Kepada Orang Lain Untuk Sekedar Melegakan Hati


Perpisahan kita tak mengubahku jadi sinis soal cinta. Justru kau telah memberiku banyak pelajaran berharga untuk suatu hari di masa depan. Aku yakin akan bertemu dia yang memang ditakdirkan Tuhan. Dan jika hari itu tiba, aku akan mampu menjadi seseorang yang lebih dewasa. Yang lebih mampu mengenal diri sendiri dan diri mereka yang aku cintai. Rasa bahagia kita memang tak pernah digariskan untuk selamanya. Namun, aku bisa jadi manusia yang lebih berdaya karena kita pernah bersama.

Bukan soal mudah mengutarakan apa yang kita rasakan kepada orang lain untuk sekedar melegakan hati yang kini lebih sering terasa sesak akan namamu, bahkan untuk menceritakan kepada diri sendiri aku tak tahu untuk memulainya dari bagian mana. Kamu sosok yang tak terjelaskan bagaimana bisa merasuki seluruh dikiranku tanpa jeda sedetik pun.

"Apa kamu tahu apa yang aku rasakan sekarang setelah kamu menawarkan sejuta warnamu?"

Kini aku tumbuh menjadi pribadi yang tak henti-hentinya belajar merelakan situasi yang pencipta awalnya adalah aku sendiri. Aku mengerti dan telah merasakannya sekarang. Inilah mungkin apa yang kau rasakan beberapa waktu yang lalu. Tapi kau tak mengetahui apa yang hatiku sebenarnya rasakan. Tak pernah sekali pun aku mengabaikanmu, aku hanya tak bisa mengungkapkan apa yang aku rasa. Mungkin aku terlalu mengutamakan gengsi dan takut untuk memulainya terlebih dahulu.

Aku paham cinta yang kau rasakan dahulu tak saperti harapanmu, tapi apa kau juga tak ingin sedikit mengetahui apa yang aku harapkan tentangmu?

Menurutku cinta adalah proses yang harus dirasakan pelan-pelan. Cinta adalah sebuah kebutuhan akan rasa nyaman, meski tak selamanya sejalan. Bukan berarti aku tak meyakini akan cintamu tetapi apa tidak terlalu dini untuk mengatakan bahwa itu cinta. Bagiku masih banyak proses hingga aku benar-benar merasakan jatuh cinta bahkan titik berat dalam hidupku sampai aku kehilangan sosokmu. Aku menyadari kesalahan itu, bahkan aku tak ingin mengulanginya kapadamu lagi. Kali ini kau bukan hilang yang berarti tak kembali, walau kembali akan berbeda, tak seperti dulu.

"Harusnya kau percaya dan yakin tanpa perlu mempertanyakan lagi bagaimana hatiku padamu."

Dulu aku sempat berpikir, kau tak akan bisa mengubah cara pandangku terhadapmu. Tapi kali ini aku benar-benar jatuh hati kepadamu.

Setiap waktu, langkah, nafas serta jiwaku hanya untuk memikirkanmu, walaupun terdengar begitu menjijikkan tapi itulah yang aku rasakan saat ini.

Aku selalu berusaha menahan egoisku untuk mendapatkan perhatianmu, karena aku begitu mengetahui bagaimana hatimu. Bukannya aku menjadi sok tahu tentangmu, tapi isi hati yang pernah kau ungkapkan padaku mulai dari kebahagiaanmu hingga kebencianmu terhadap sifat yang dominan susah berubah dari diriku. Hubungan yang terjalin kali ini aku menyebutnya cinta tanpa syarat, meski kali ini aku yang akan merugi tersiksa oleh batasan-batasan yang kau ciptakan, tapi aku ikhlas.

Kumohon Kali Ini Lepaskan yang Tak Ingin Digenggam

Kamu bilang kepadaku
Kamu merasa nyaman di dekatku, merasa berbeda kalau di dekatku, kamu akan serius, akan menjaga semua untukku, jika aku tak membalas perasaanmu jangan pernah aku menjauhimu, akan tetap memberikan sayangmu untukku, selalu ada untukku kapanpun itu.
Aku menghabiskan waktu dengan belajar menerima, apa yang memang belum ditakdirkan teruntuk diriku sekarang. Walaupun hanya tersisa harapan, aku selalu mencoba percaya akan harapan yang disimpan dengan indah yang hanya akan menjadi milikku.
Aku masih berharap kamu sadar bahwa aku ada, di sini, di sisimu, bukan di depan maupun di belakangmu, aku tepat di sampingmu, kamu hanya perlu menoleh sedikit melihat aku.
Tak jarang aku memikirkan apa semua mungkin bisa terjadi? Yaaa harapan yang aku ciptakan setelah mengenalmu. Apa mungkin kita bisa benar-benar dipertemukan jika hanya aku yang berusaha mencarimu? Akan adakah waktumu untukku menceritakan perasaan ini?
Karena sayang itu gak butuh alasan hanya perlu aku dan kamu rasakan karena yang tau hati ini
Dekat seakan tak pernah ada jarak di antara kita yang membuatku belajar mengerti kamu dengan semua perhatian, kasih sayang, sifat manjamu, hingga ejekan-ejekan yang kamu berikan untukku, mungkin dulu aku belum paham apa arti semua itu atau karena aku yang masih dihantui dengan masa lalumu.

Karena aku tipikal yang susah melupakan kenangan, bisa jadi itu menjadi alasan kuat aku takut kamu kembali kemasa lalumu yang indah yang mungkin takkan bisa aku gantikan ketika kamu bersamaku.
Bagaimanapun sayang gak butuh alasan untuk diberikan seperti yang kamu ucapkan padaku.
Aku menginginkanmu, seperti dulu kamu sering melihat mataku tanpa berkata satu patah kata kemudian tersenyum, apa sebenarnya yang ada dibenakmu melihatku. Cerita akan mimpi-mimpi kita kelak, berandai-andai jika suatu saat aku menemukan pasangan yang begini-begitu.

Berangan kemungkinan yang akan kita lewati nanti. Bertanya mungkinkah kamu akan bertemu dengan kebahagian yang sesungguhnya dan membuatku tertawa dengan kekonyolan yang selalu aku rindukan.

Jika mereka dapat dengan mudahnya menuntaskan rindu, maka aku hanya bisa mengalihkannya dengan mengerjakan hal lain demi membunuh waktu akan rindu yang tak berujung ini. Mencoba sibuk untuk menghabiskan waktu tanpa harus menjadi terpaku hanya terdiam menunggumu.

Menunggumu muncul di jendela notifku, menjadi keseharian yang tak pernah absen kulakukan. Mungkin orang di sekitarku pun terusik ketika aku selalu menatap layar handphone memeriksa notifku. Aku hanya tak ingin melewatkanmu dan membiarkanmu menunggu lama, walaupun aku sering menunggumu.

Ketika penantian tak menjemukanku dan saat itulah yang aku tunggu hadir meski hanya sapaan namaku yang kamu sebut, tak pedulikan itu yang aku tau hanya kamu sedang berfikir tentangku.
Ironis memang, tapi menyenangkan ketika menunggumu bukan hanya sekedar harapan.
Menunggu kamu membukakan lagi pintu hati yang dahulunya pernah kamu buka, tapi belum sempat aku melangkahkan kaki untuk masuk, kamu sudah lebih dulu menutupnya rapat bahkan setelah aku mengetuknya berulang kali kamu tetap tak membukanya.

Itu di bagian hatimu berbeda dengan di bagian hatiku, sejak mengenalmu aku mencoba berusaha membuka hati dengan perlahan, hanya saja ketika pintu itu terbuka kamu enggan masuk untuk berada di dalamnya.

Aku sadar kamu sudah mengakhiri semua cerita cinta kita, berhenti dan tak ingin berbagi hari denganku lagi. Ketika kamu menganggapku sebagai kesalahpahaman, bolehkah aku menganggapmu sebagai kebahagiaan yang tidak sengaja aku abaikan?
Tiap aku mencari alasan mengapa aku begitu buta aku semakin menemukanmu.
Berperan sebagai pembohong ketika aku mengatakan semuanya baik-baik saja sedangkan sebenarnya yang hatiku rasakan ialah kehancuran sedang tidak baik-baik saja. Saat aku merasa seperti kehilangan harapan, mungkin saat itu aku mampu mengatakan semua yang sebenarnya aku pendam yang sudah lama ingin kukatakan tapi aku tak memiliki kekuatan untuk mengatakannya bahwa aku mencintainya sepenuh hati.

Hari ini ijinkan aku meninggalkannya meskipun sakit tapi aku pernah melewati yang lebih hancur dari ini sebelumnya. Kumohon jangan datang lagi dalam segala bentuk apapun.
Tolong bergeserlah sedikit dari pintu hatiku, jika kamu tak berkenan masuk, itu hanya akan menghalangi pandanganku kepada yang lainnya yang telah berkenan masuk.
Hati, kumohon kali ini bisakah kamu lepaskan yang tak ingin digenggam, jangan memaksakan menggenggam duri mawar itu hanya akan melukaimu.

Mungkin beberapa waktu lalu aku sangat kuat meyakini harapanku.

Tapi jika yang menciptakan kita tidak menghendaki harapanku ini aku tak bisa berbuat apapun, hanya merelakan Tuhan yang mengatur sebagaimana mestinya kita masih ada harapan yang jauh lebih baik untuk diperjuangkan.